Oleh: Jefri A.S Rette Sekawael.
Sanana - Zonamalut.com | Sejarah selalu memiliki cara untuk
kembali mengetuk pintu bangsa yang lupa. Kadang ia datang dengan wajah yang
sama, kadang dengan pakaian baru yang tampak lebih rapi, lebih modern, dan
lebih demokratis. Namun substansinya tetap serupa: kekuasaan yang makin
terpusat, kritik yang dipandang ancaman, hukum yang lentur kepada penguasa, dan
rakyat yang perlahan dipaksa menerima keadaan sebagai sesuatu yang normal.
Indonesia pernah melewati fase
panjang ketika ketakutan menjadi bahasa sehari-hari. Di masa itu, stabilitas
dijadikan mantra utama, sementara kebebasan dipersempit atas nama pembangunan.
Pers dibatasi, oposisi dicurigai, dan suara rakyat hanya dianggap penting saat
pemilu datang. Kita menyebut masa itu sebagai Orde Baru.
Hari ini, pertanyaan yang mulai
bergema di ruang publik bukan lagi apakah demokrasi sedang melemah, melainkan:
apakah Orde Baru sedang bereinkarnasi?
Tanda-tandanya tidak selalu hadir
dalam bentuk tank di jalan atau larangan terang-terangan terhadap kebebasan
berbicara. Ia muncul lebih halus—melalui pelemahan institusi demokrasi,
pembungkaman kritik lewat intimidasi digital, politisasi aparat, hingga praktik
nepotisme yang kembali dianggap lumrah. Demokrasi tetap dipertontonkan, tetapi
substansinya perlahan dikosongkan.George Orwell pernah mengingatkan:
“Semakin jauh suatu masyarakat
menyimpang dari kebenaran, semakin besar pula kebenciannya terhadap orang-orang
yang mengungkapkannya.”
Semakin jauh sebuah bangsa dari
kebenaran, semakin besar kebenciannya terhadap suara yang mengingatkan. Dalam
konteks hari ini, kritik sering dipelintir menjadi kebencian, aktivisme
dianggap ancaman, dan perbedaan pandangan diperlakukan seperti musuh negara.
Kondisi ini berbahaya. Demokrasi
tidak runtuh dalam satu malam. Ia mati perlahan—dibiasakan melalui kompromi,
ketakutan, dan pembenaran-pembenaran kecil yang terus diulang.
Bung Karno pernah berkata:
“Perjuanganku lebih mudah karena
mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu
sendiri.”
Kutipan itu terasa relevan ketika
ancaman terhadap demokrasi tidak lagi datang dari luar negeri, melainkan dari
praktik kekuasaan yang tumbuh di dalam sistem sendiri. Ketika elit politik
lebih sibuk merawat dinasti daripada meritokrasi, ketika hukum terasa tajam ke
bawah namun tumpul ke atas, maka demokrasi sedang bergerak menjauh dari
cita-cita reformasi.
Yang paling mengkhawatirkan adalah
lahirnya generasi yang mulai menganggap otoritarianisme sebagai solusi. Di
tengah kesulitan ekonomi dan ketidakpastian sosial, sebagian masyarakat mulai
percaya bahwa negara membutuhkan “tangan besi”. Ini adalah jebakan sejarah yang
berulang. Stabilitas tanpa kebebasan mungkin tampak tenang di permukaan, tetapi
menyimpan bara yang sewaktu-waktu meledak.
Nelson Mandela pernah
mengingatkan:
“Menolak hak asasi manusia
seseorang berarti menantang kemanusiaan mereka itu sendiri.”
Membungkam kritik, mempersempit
ruang sipil, dan mengendalikan opini publik bukan hanya persoalan politik; itu
adalah ancaman terhadap martabat manusia itu sendiri.
Media massa, kampus, organisasi
masyarakat sipil, dan generasi muda memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga
ingatan kolektif bangsa. Sebab bangsa yang lupa pada sejarahnya akan mudah
dipaksa mengulang luka yang sama.
Kritik terhadap kekuasaan bukan
tindakan makar. Justru kritik adalah oksigen demokrasi. Negara yang sehat bukan
negara tanpa kritik, melainkan negara yang mampu mendengar kritik tanpa merasa
terancam.
Reformasi 1998 lahir dari darah,
air mata, dan keberanian rakyat melawan ketakutan. Sangat ironis jika hari ini
demokrasi justru dilemahkan secara perlahan oleh mereka yang menikmati hasil
reformasi itu sendiri.
Kita tentu tidak ingin hidup di
masa ketika rakyat hanya boleh tepuk tangan, tetapi tidak boleh bertanya. Sebab
ketika kekuasaan mulai anti kritik, ketika hukum kehilangan independensi, dan
ketika rakyat dipaksa memilih antara diam atau disingkirkan, saat itulah Orde
Baru tidak lagi sekadar kenangan sejarah—melainkan sedang bereinkarnasi di
depan mata kita sendiri.(Red)
