Oleh: Arman Buton.
Sanana - Zonamalut.com | Menyeruput kopi di teras rumah selalu tersedia ruang untuk kontemplasi. Di tengah kepulan asap dari kopi panas dan sebatang rokok yang menyatu, ingatan saya justru melayang pada rentetan usia daerah ini yang terus bertambah di setiap memasuki tanggal, 31 Mei. Sayang, perayaan HUT Sula yang datang silih berganti seolah seremonial belaka, menyisakan jejak refleksi yang tak kunjung menemukan arti kebahagiaan sejati bagi rakyat Sula.
Masih tertanam kuat dalam memori, kala saya dan teman-teman se-angkatan digodok senior-senior aktivis Sula di Ternate pada Tahun, 2008. Dari sekian materi yang disampaikan, ada satu materi yang sangat membekas, "Sejarah Perjuangan Pemekaran Sula".
Dimulai dari Uma Ya Fai Gareha (rumah adat), mereka berkumpul. Ada keterwakilan Fagud, Fatce, Fahahu, dan Mangon. Kehadiran mereka dirumah adat tersebut, bukan sekedar perkumpulan biasa, yang hanya datang karena menjalankan tugas menjaga tatanan adat, budaya dan kearifan lokal semata. Lebih diri itu, di tempat itulah hati menyatu menjadi satu, komitmen untuk membangun negeri menjadi mimpi bersama.
Dari rumah adat pula, empat soa gareha (empat suku) duduk bersama hingga melahirkan kesepahaman berjuang bersama demi negeri tercinta tanpa ego.
Tak butuh waktu lama, narasi perjuangan pemekaran mulai meluas. Lahir kemudian ide membangun wadah perjuangan yang diberi nama Himpunan Pelajar Mahasiswa Sula (HPMS).
Semenjak saat itu, masyarakat Sula dari Sanana sampai pelosok desa-desa mendukung perjuangan tersebut dengan menyumbangkan separuh uang dari hasil menjual kopra, kakao atau dari sumber lain untuk digunakan dalam perjuangan. Donasi masyarakat Sula tersebut, dikenal sebagai budaya 'Lom Poa Hoi (saling membantu)'.
Semangat 'Dad Hia Ted Sua (bersatu bangun Sula) terus berkobar, tak bisa dibendung. Nama-nama seperti, Iswan Sahjuan Sangadji, Kasim Marua P, Halim Soamole, Yusuf Mayau, H. Adam Yoisangadji, Hatim Mayau, Nurdin Umasangaji, mereka berada pada garis depan, mereka adalah pemimpin-pemimpin hebat yang mempelopori perjuangan pemekaran.
Semangat juang tersebut, mereka bungkus dalam tiga visi besar: Pertama, memperjuangkan Sula menjadi DOB. Kedua, mencerdaskan generasi Sula. Dan yang ketiga, mensejahterakan rakyat Sula.
Akhirnya Pada, 31 Mei 2023, Sula resmi dimekarkan menjadi DOB setelah perjuangan panjang melewati sukacita dan pengorbanan yang luar biasa besar, (baca: sejarah perjuangan HPMS, 1959-2003).
Masyarakat Sula menyambut pemekaran Sula sebagai hari kebangkitan dengan air mata kebahagiaan.
Waktu terus berlalu, sementara harapan perubahan terus disematkan kepada pemimpin daerah. Satu periode kepemimpinan berakhir, Bupati mulai berganti, tetapi harapan masyarakat Sula belum ada kepastian.
Harapan yang tak kunjung pasti tersebut, menjadi pemantik demonstrasi generasi muda atas kepemimpinan Bupati Ahmad Hidayat Mus.
Di masa Periode Kepemimpinan Bupati Ahmad Hidayat Mus yang kedua, saya sendiri juga bagian dari banyak mahasiswa Sula di Ternate yang ikut terlibat dalam demonstrasi. Kami turun kejalan secara beruntun dari Asrama HPMS menuju Polda Malut, menuntut hak yang dititipkan leluhur kepada generasi penerus Sula. Meminta pertanggungjawaban kepada Bupati Ahmad Hidayat Mus di awal masa Periode kedua kepemimpinannya, dan berlanjut ke Bupati Hendrata thes.
Sementara itu, ditempat lain demonstrasi mahasiswa Sula menuntut hak serupa juga terjadi di Kota Sanana, Ambon, Manado, Makasar, Jakarta dan lain-lain . Suara-suara yang bergema tersebut tujuannya sama, yaitu wujudkan visi perjuangan pendahulu.
Teriakan suara dijalanan waktu itu memang belum membawa dampak perubahan yang signifikan atas dua visi yang tak kunjung terealisasi, tetapi setidaknya di masa itu, masih ada generasi yang sadar diri, menjaga harkat dan martabat perjuangan petuah, dan bertindak rasional sebagai manusia merdeka.
Hari ini, dimasa kepemimpinan Bupati Fifian Ade Ningsih Mus, yang kini sudah memasuki Periode kedua, masih saja belum ada tanda-tanda kesejahteraan dan kecerdasan generasi Sula secara nyata.
Namun diwaktu bersamaan, kritik terhadap kinerja Bupati Sula terlihat sepi, demontrasi mahasiswa Sula pun mulai terlihat redup.
Entahlah, mungkin karena lahir persepsi kalau dua visi mulia yang digagas leluhur tersebut mustahil untuk diwujudkan, bahkan oleh siapapun pemimpinnya? ataukah generasi kita yang berkhianat atas cita-cita itu?
Tetapi yang pasti, penghianatan paling nyata dari generasi penerus kita hari ini adalah lupa kalau Sula sampai pada titik ini, ada Leluhur yang berjuang mati-matian dimasa lampau.
Wujud dari penghianatan lain adalah matinya etika politik dan birokrasi. Kita melihat bagaimana fasilitas publik, infrastruktur dasar, hingga sektor pendidikan dan kesehatan masih belum merata. Para pemuda yang seharusnya menjadi lokomotif perubahan, justru tersandera oleh politik transaksional, membungkam nalar kritis demi keuntungan jangka pendek.
Nilai-nilai leluhur dari empat soa yang memegang teguh prinsip pamanatol (saling menjaga), kini diganti dengan polarisasi dan perpecahan demi ambisi elektoral. Semangat gotong royong pemekaran telah diganti dengan mentalitas instan para pemegang kebijakan yang melupakan sejarah akar rumput.
Sialnya, dalam situasi seperti sekarang, kita yang dahulu dijalan, ribut dan bertikai dengan Pemda, kini lebih memilih jalan aman, berdiam diri dengan alibi menjaga keseimbangan, ketimbang memilih bertengkar langsung secara intelektual dengan Pemda.
Situasi ini, semakin diperparah dengan dinamika aktivis mahasiswa yang cenderung lebih sentralistik ke masing-masing lembaga organisasi saja, tanpa terlalu ambil pusing soal kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar hari-hari ini.
Dan, yang paling bikin sedih, keberadaan HMPS itu sendiri, yang mestinya menjadi rumah perjuangan bersama, justru kini seperti rumah kosong tanpa penghuni.
Rekam jejak para pejuang Sula yang heroik dahulu tak cukup menjadi ruh serta spirit perjuangan kita di hari ini. Sepertinya kita butuh sosok yang pemimpin sejati yang berani berada digaris depan, namun rasa-rasanya sulit.
Yamin Waisale pernah mengatakan: "mencari pemimpin sejati yang bisa dijadikan panutan memang sulit, sama sulitnya seperti mencari perawan disarang pelacur."
Kini, tak ada lagi aktor yang memonitori pergerakan perubahan, bahkan jelang HUT Sula yang merupakan hari yang penuh makna.
Momentum HUT Sula, mestinya menjadi ruang refleksi untuk berbenah diri secara bersama, bukan pesta mewah meriah yang menghabiskan banyak uang dengan mendatangkan artis, apalagi dugaan anggaran yang bersumber dari APBD yang notabenenya dari pajak rakyat.
Yang terjadi kita merayakan pesta diatas mimpi leluhur yang mati. Selanjutnya, yang hilang adalah akal sehat, yang hilang adalah hati nurani.
Rasa-rasanya cerita heroik Sula tempo dulu bersama 'Uma Ya Fai Gareha (rumah adat)', amat istimewa, sangat bermakna. Sekarang tinggal cerita yang bahkan hampir dilupakan generasi kita.
Di tegukan kopi terakhir, saya pun berharap HUT Sula kali ini adalah momentum untuk kita merenung, evaluasi, dan berbenah diri menuju Sula yang lebih baik. Mari kita kembalikan marwah otonomi daerah ke tujuan utamanya, yaitu kesejahteraan rakyat, bukan kemakmuran elite. #AB
